Galeri Video

Agenda

Polling


Kesehatan

Malnutrisi, RI bisa kehilangan potensi ekonomi 3 persen PDB

Selasa, 28 April 2015 - 10:22:44 WIB | dibaca: 1491 pembaca

Kasus kurang gizi atau malnutrisi diperkirkan bisa membuat Indonesia kehilangan potensi ekonomi sekitar 2 persen-3 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Stunting atau pengerdilan pada anak menjadi salah satu contoh kasus malnutrisi masih marak terjadi di Indonesia.

Diperkirakan, sebanyak 8,4 juta balita atau anak usia di bawah lima tahun di Tanah Air mengalami stunting.

Pakar Gizi Universitas Indonesia Endang Achadi mengatakan penanganan kasus stunting pada anak masih terhalang stigma berkembang di masyarakat. Dimana, anak dengan tubuh pendek masih dianggap normal.

"Masalahnya bukan di tubuh yang pendek. Tapi stunting juga bakal menggangu perkembangan otak anak," katanya seperti dikutip dari Worldbank.org, Sabtu (25/4).

Stunting adalah gejala dari malnutrisi kronis. Malnutrisi bisa bermula ketika bayi masih berbentuk janin. Di dalam rahim, calon bayi tak mendapat asupan gizi berkecukupan.

Akibatnya, ketika lahir, bayi rentan menderita obesitas. Pada gilirannya, obesitas bisa membuat anak-anak rentan terserang penyakit tak menular, termasuk di dalamnya diabetes dan serangan jantung.

"Banyak kasus penyakit tak menular di Indonesia menyebabkan pengeluaran pemerintah menjadi tinggi, khususnya untuk asuransi kesehatan nasional," kata Direktur Nutrisi Kementerian Kesehatan Doddy Izwardi.

Sekitar 60 persen kasus kematian disebabkan oleh penyakit tak menular, termasuk di dalamnya malnutrisi. Maka itu, pemerintah harus segera meningkatkan perhatiannya dalam mengatasi kasus-kasus malnutrisi di Indonesia.

"Biaya terbesar harus ditanggung asuransi kesehatan nasional untuk penanganan penyakit stroke, diabetes, dan gagal ginjal."

Soekirman, Direktur Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan, menambahkan malnutrisi bisa menghambat pemerintah dalam memanfaatkan bonus demografi. Dimana penduduk usia produktif lebih besar ketimbang nonproduktif.

"Apa yang seharusnya bisa menjadi bonus demografi berubah menjadi beban demografi."




    Statistik

    Pengunjung hari ini: 7
    Total pengunjung: 7137
    Hits hari ini: 23
    Total Hits: 18874
    Pengunjung Online: 1

    Banner

    Saran

    Untitled Document